Rating Tinggi Bukan Alasan Utama Perusahaan Pasang Iklan, Ini Alasannya

AC Nielsen, lembaga pemeringkat rating program di media massa, mengungkapkan bahwa rating (jumlah pemirsa/penonton) yang tinggi di suatu program televisi bukan satu-satunya pertimbangan bagi perusahaan untuk memasang iklan di program tersebut.

Pertimbangan utama perusahaan saat memasang iklan adalah kesesuaian latar belakang pemirsa dengan target konsumen mereka. Tentu percuma memasang iklan di program yang rating-nya tinggi tapi penontonnya tak butuh produk yang diiklankan.

“Para pengiklan sudah punya segmen tersendiri di mana dia harus beriklan. Rating bukan satu-satunya dan bukan yang utama untuk pertimbangan, yang lebih penting adalah cocok atau tidak dengan target konsumen,” kata Executive Director Media Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, dalam diskusi di WTC Sudirman, Jakarta, Selasa (17/5/2016).

Dia menyontohkan, Traveloka.com mengalokasikan sebagian besar belanja iklannya di program berita dan hiburan. Sebab, penonton berita dan hiburan adalah penduduk kelas menengah berusia muda yang sering bepergian keluar kota dan akrab dengan internet.

“Traveloka kebanyakan iklan di news dan entertainment, karena targetnya pengguna internet yang suka jalan-jalan. Orang-orang yang seperti itu biasanya muda, usia 15-29 tahun, male, middle class. Kecocokan antara consumer profile dan audience profile sangat penting, bukan hanya rating,” paparnya.

Lalu TOP Coffee, saat meluncurkan produknya memilih beriklan di program Top News di Metro TV yang rating-nya tidak begitu besar. Sebab, penonton Top News adalah masyarakat kelas menengah atas, TOP Coffee ingin memperlihatkan bahwa produknya tidak murahan. “Walaupun harganya relatif murah, dia tidak mau terlihat murahan,” ucap Hellen.

Contoh lainnya, Mie Sedap menghabiskan separuh budget iklannya di program berita. Alasannya sederhana, pesaingnya sudah banyak memasang iklan di acara hiburan, maka Mie Sedap mengambil segmen yang lain.

“Mie Sedap hampir separuhnya di program berita. Kita bisa baca strategi marketingnya di sini. Kompetitornya dia, Indomie, kebanyakan iklan di sinetron dan entertainment. Kalau dia di situ juga, dia tabrakan. Mie Sedap juga ingin brand-nya diasosiasikan dengan yang lebih berkelas,” Hellen menjelaskan.