Rating Jadi Momok Utama Televisi Indonesia

Humor yang kasar, sinetron yang tidak logis, tayangan sarat kekerasan dan tidak beredukasi masih menjadi tontonan publik di televisi di Indonesia.

Pengamat siaran publik, Muhamad Heychael menilai pokok persoalan industri televisi itu disebabkan oleh rating. Data pemirsa televisi itu menjadi mimpi buruk bagi frekuensi publik.

“Mengacu pada rating yang dilepaskan ke pasar begitu saja. Itu jadi problem besarnya yang mengakibatkan mekanisme industri tidak memberi ruang pada kualitas. Siaran bukan diukur kualitasnya, tapi sebanyak apa disukai atau ditonton,” kata Heychael kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Akibatnya, imbuh Heychael, para pekerja televisi berlomba mengejar rating demi mendapatkan pemasukan yang tinggi dari iklan.

Padahal, menurutnya, rating yang ada saat ini tak bisa jadi acuan karena tak turuji keabsahannya dan tak bisa mewakili masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Di Indonesia, rating diukur oleh Nielsen dengan mengambil sampel sebanyak 2.273 rumah tangga di 11 kota besar di Indonesia.

“Acuan itu tidak bisa dipakai untuk masyarakat Indonesia, karena di kota besar saja. Padahal masyarakat Indonesia jumlahnya sangat banyak,” tutur Direktur Remotivi itu. Remotivi sendiri merupakan pusat studi media dan komunikasi.

Sebagai perbandingan, Australia dengan jumlah penduduk sama seperti Jakarta, memiliki jumlah sampel dua kali lipat dari Indonesia.

Heychael menyarankan agar Indonesia memiliki Media Rating Council (MRC) yang difasilitasi negara, seperti di Amerika Serikat yang bertugas mengevaluasi dan mengaudit pengukuran rating agar teruji validitasnya.

“Peran serta negara itu penting untuk ikut menjamin adanya satu validitas data dan pengukuran yang representatif semacam MRC,” ujarnya.

Selain itu, Heychael menyebutkan, untuk menuntaskan persoalan televisi ini dibutuhkan ketegasan Komisi Penyiaran Publik (KPI) dan masyarakat yang sadar kualitas atau terliterasi.

Sementara itu, Ketua KPI Yuliandre Darwis juga melihat ada fenomena mengejar rating meski konsep program belum matang. Dia membandingkan serial drama Korea Selatan dengan sinetron Indonesia.

“Seharusnya ide itu diciptakan sudah sejak lama, seperti Descendants of The Sun. Sinetron itu kan ketika episodenya mentok di 20, kemudian ganti ide [dengan judul baru]. Kalau di sini kan enggak, selagi bagus hajar terus,” kata Yuliandre saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Selain berlomba mengejar rating, lanjut Yuliandre, persoalan pada industri televisi Indonesia juga disebabkan oleh kurangnya konten orisinal.

“Selain itu, yang jadi permasalahannya adalah miskin konten karena tidak ada ide dan sumber daya yang mampu menciptakan [konten] sebaik di luar negeri,” ujarnya.

Menurut Yuliandre, pegiat televisi seharusnya membuat siaran mengandung nilai kebangsaan yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Dia mencontohkan tayangan Bollywood yang menayangkan siaran humanis.

“Sekarang sinetron luar ratingnya selalu tinggi, artinya dari segi konten lebih humanis daripada sinetron jadi-jadian Indonesia yang konsumtif dan hedonis,” tutur Yuliandre.